Sungguh, mengajar bukanlah hal yang asing buat saya. Saya telah mengarungi dunia mengajar selama hampir 2 tahun. Namun, saya tidak mengajar di sebuah sekolah, melainkan di sebuah bimbingan belajar. Tentunya didalam sebuah bimbingan belajar, sang pengajar tidak di tuntut untuk membuat RPP. Dan itu salah satu perbedaan yang mencolok antara sang pengajar di sebuah sekolah dengan di bimbingan belajar.
Jumat, 15 April 2011, seperti biasa dihari tersebut akan ada mata kuliah Mikro, dan tentunya akan ada yang mengajar didepan kelas. Sesuai dengan isi silabus semester 1 kelas 1 smp, saya akan mengajar Reading tentang descriptive text. Beberapa hari sebelum hari berlangsungnya kegiatan mengajar ini. Saya sempat ragu antara mengajar reading dan speaking. Akhirnya, dengan segala pertimbangan, saya memilih reading. Bahan ajar sudah saya siapkan, karena saya pernah mengajar materi ini sebelumnya di sebuah bimbingan belajar. Yah, sebuah bimbingan belajar, bukan sebuah sekolah.
Saya ingat, ketika saya mau mengeprint RPP, saya masih bingung dengan metode pembelajaran yang akan saya gunakan nanti. Selama ini saya hanya tahu bahwa reading menggunakan Grammar Translation Methode. Karena GTM tidak dipakai lagi, akhirnya saya menggantinya dengan Contextual Teaching Learning (CTL) tanpa mencari tahu apa yang dimaksud dengan CTL. Dan saya tidak menyadari, bahwa keteledoran saya ini membuat saya tidak bisa tidur pada malam harinya.
Pukul 08.45, giliran saya tampil untuk mengajar. Ini adalah penampilan pertama saya di dalam kelas mikro. Dan saya tahu, pertarungan pun akan segera dimulai. Awal saya berdiri di depan kelas, saya cukup bersemangat. Saya melihat murid-murid saya menatap dan menunggu kata-kata dari saya. Akhirnya, saya mengucapkan salam dan menyapa mereka. Dan mereka pun membalas dengan semangat.
Setelah mengulang sedikit pembelajaran yang lalu, saya mulai memasuki pembelajaran untuk hari ini. Saya bertanya kepada mereka, apakah ada yang mengetahui descriptive text. Ada yang mengatakan pernah dan ada yang mengatakan belum. Setelah berinteraksi sesaat, saya menjelaskan apa yang dimaksud dengan descriptive text. Descriptive text adalah teks yang menjelaskan suatu benda, tempat, dan lain sebagainya. Descriptive teks terdiri dari identification dan description Nah, ketika saya memberikan contoh tentang descriptive text, dosen saya berkata, “Kamu menuliskan di RPP bahwa menggunakan metode pembelajaran CTL, tetapi kamu dalam mengajar kelas kali ini tidak menggunakan metode ini”. Saya cukup terkejut ketika saya mendengar ini, saya langsung gugup, grogi, dan segala perasaan bercampur baur. Dan saya menyadari, saya salah. Dosen menyarankan saya untuk menggunakan model dalam memberikan contoh. Dan saya menyuruh salah satu murid untuk ke depan kelas, dan saya memberikan contoh secara langsung kepada anak-anak. Ini membuat anak-anak lebih paham tentang descriptive text.
Akhirnya setelah mendapat pengarahan dari dosen, pembelajaran pun berlanjut. Saya membagikan fotokopi contoh descriptive text yang berjudul “Samuel Rizal, A Young and Famous Actor”, setelah itu saya membagi mereka menjadi beberapa kelompok ( 1 kelompok 2 orang). Dalam proses pembagian kelompok, saya melakukan kesalahan lagi, saya menyuruh anak-anak dari depan hingga belakang untuk berhitung. Siapa temannya yang dapat angka genap, bearti dia berpasangan dengan yang genap. Dan siapa teman yang dapat ganjil, bearti dia berpasangan dengan yang ganjil. Dan untuk kesekian kalinya, dosen mengingatkan saya bahwa lebih baik menghitung dengan cara 1 dan 2 saja dan itu cara yang lebih simple. Awalnya saya gugup ketika dosen memberikan instruksi kepada saya ditengah kegiatan pembelajaran, semangat yang awalnya nya saya miliki 100% tiba-tiba turun drastis menuju titik terendah, saya hilang konsentrasi beberapa saat, sehingga saya lupa apa yang harus saya katakan selanjutnya. Setelah beberapa kali, saya mulai terbiasa dengan instruksi beliau . Karena saya tahu, sesungguhnya saat ini beliau sedang membantu saya, bagaimana seharusnya bertindak didalam kelas ketika menggunakan metode pembelajaran CTL.
Saya pun melanjutkan pembelajaran dengan kekuatan yang masih saya miliki. Dalam benak saya terlintas sebuah kata “Tidak ada kata menyerah, Lanjutkan!”.Saya menyuruh anak-anak untuk mengulangi bacaan yang telah saya baca. Setelah itu saya menganjurkan mereka untuk membaca di hadapan temannya sambil bergantian. Setelah praktek dengan teman-teman, saya bertanya, “siapa yang mau membaca?”. Awalnya tidak ada yang menjawab, setelah beberapa saat akhirnya ada yang mau. Setelah kelompok pertama membaca, saya merasa bahwa tidak semua anak berani dalam membaca untuk didengar oleh teman-temannya. Saya melihat ada beberapa anak yang ingin membaca, tetapi malu untuk mengatakan, “saya ingin membaca”. Akhirnya saya menawarkannya, dan anak tersebut pun mau. Inilah dasar pemikiran saya, berusaha ingin lebih bersahabat dengan mereka.
Setelah membaca, anak-anak saya beri kesempatan untuk bertanya tentang kata-kata yang sulit yang tidak dimengerti didalam teks. Anak-anak cukup antusias dalam bertanya. Dosen saya menganjurkan untuk menuliskan kata-kata yang sulit tersebut di papan tulis. Dan saya menyuruh anak-anak yang mengetahui artinya, untuk menuliskan di papan tulis.
Sebelum babak evaluasi, saya bertanya kepada anak-anak, “Apakah ada yang kurang dimengerti? Ada yang ingin bertanya?”. Saya sangat berharap anak-anak bertanya, karena jika anak diam. Ada kemungkinan mereka sudah paham atau tidak paham sama sekali. Dan akhirnya pertanyaan itu pun muncul dari seorang anak. Saya menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat. Nah tibalah babak evaluasi, saya menuliskan beberapa soal di papan tulis. Dan menyuruh anak-anak untuk menjawabnya.
Di penghujung pembelajaran, sesuai dengan metode pembelajaran CTL, dianjurkan supaya memberikan tugas rumah kepada murid-murid untuk mendeskripsikan orang terdekat. Meskipun saya kurang mampu mengajar dengan baik, namun saya mengakhiri pembelajaran hari ini dengan sebuah senyum, sebuah senyuman bahwa penampilan ke depan harus lebih baik.